Kisah Inspiratif: Meja Kayu Untuk Kakek
Senin, 04/09/2017 - 03:26 WIB
images-artikel/kecil/FO9JGEYFMEGA9F5.MEDIUM.jpg
Sumber: bing.com
 
 
Jakarta -

Alkisah, hiduplah seorang kakek renta bersama anak, menantu dan cucunya yang berusia 6 tahun. Kondisi kesehatannya sudah menurun, daya ingatnya terganggu alias pikun, penglihatannya mulai kabur, tangannya sudah bergerak tidak menentu, serta kakinya sudah kepayahan menopang beban tubuhnya sehingga berjalan pun sulit bagi sang kakek. Namun, karena tidak mau membuat seisi rumah repot, maka kakek masih bersikeras melakukan segala sesuatunya sendiri. 


Akibatnya, keluarganya justru merasa terganggu dengan kondisi sang kakek. Mereka berempat memang punya kebiasaan menyantap makanan bersama. Namun kakek itu dianggap mengacaukan selera makan mereka, sendok garpu kerap jatuh kebawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu hangat yang tersedia di meja tumpah membasahi taplak.


"Istriku, aku tidak enak denganmu. Kita harus melakukan sesuatu. Ayahku sudah tidak mampu mengurus dirinya sendiri," begitu ungkap kepala keluarga yang merupakan putra sang kakek. 


“Iya, aku pun sudah bosan membereskan kekacauan dari beliau. Terkadang aku berusaha menjalani semuanya dengan ikhlas, namun ia begitu sering melakukannya," menantu si kakek menimpali. 


Setelah berpikir memutar otak, akhirnya keduanya memutuskan untuk membuat meja kecil di sudut ruangan agar sang kakek makan disana secara khusus, tidak bergabung bersama mereka di meja makan. Peralatan makan pun sengaja dibuatkan dari kayu karena kakek begitu sering memecahkan piring, mangkuk ataupun gelas. Suami istri itu yakin, apa yang mereka lakukan merupakan solusi ampuh. 


Keesokan harinya, waktunya mereka sarapan. Kepala keluarga langsung mendudukkan Ayahnya di meja khusus yang sudah disiapkan, letaknya ada di pojok ruangan. Dalam hati, batin kakek pun menangis, apakah ia memang sudah sedemikian menjijikkannya sehingga anaknya melakukan hal itu kepadanya. Singkat cerita, kondisi demikian sudah terjadi selama 2 pekan. Kakek itu memendam rasa sakit hati dan amarahnya, lalu ia lampiaskan dalam bulir-bulir airmata. Ia tumpahkan semuanya di sepertiga malam. 


"Oh Tuhan. Mungkin lebih baik Engkau ambil saja nyawaku, kedua anakku sudah tidak mau lagi terganggu dengan kehadiranku," 


Sebenarnya, cucunya yang berusia 6 tahun tidak tega melihat kakeknya diperlakukan demikian, Akan tetapi, karena ia masih kecil maka belum cukup keberaniannya untuk menentang keputusan Ayah dan Ibunya. Pada suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu, 


“Kamu sedang membuat apa, Nak? Kok jam segini belum tidur juga?”


Anaknya menjawab, 


“Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saat aku besar nanti., nanti kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan. Aku membuatnya dari sekarang, supaya saat aku besar semuanya sudah siap” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.


Bak tersengat aliran listrik, jawaban itu membuat kedua orang tuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, air mata pun mulai begulir dari kedua mimpi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orang tua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.


Sumber
Buku Kisah Keluarga Tikus karya Vanny Chrisma W. 

 
 
Artikel Terkait:
-
-
-
-
-
 
Baca Juga:
-
-
-
-
-
 
           
Sabtu, 06/12/2014 - 08:05 WIB
Rabu, 24/12/2014 - 08:49 WIB
Senin, 29/12/2014 - 15:32 WIB
Jumat, 26/12/2014 - 17:24 WIB
Senin, 08/12/2014 - 09:34 WIB
Jumat, 19/12/2014 - 09:08 WIB
Kamis, 11/12/2014 - 16:41 WIB
Sabtu, 27/12/2014 - 10:19 WIB
Kamis, 25/12/2014 - 16:28 WIB