Joey Alexander, Pianis Muda Indonesia yang Masuk Nominasi Grammy Awards 2016!

  • Selasa, 15/12/2015 - 14:48 WIB
 
Agnes Monica atau populer dengan nama Agnez Mo boleh saja mengklaim dirinya sebagai penyanyi Tanah Air yang go internasional, lantas bisa berkolaborasi dengan musisi mancanegara seperti Michael Bolton, Keith Martin atau mengeluarkan single yang hits di Amerika Serikat, seperti Coke Bottle. Akan tetapi, sampai saat ini pelantun Matahariku itu belum berhasil masuk nominasi Grammy Awards, sebuah supremasi tertinggi bagi insan musik dunia. 


Nama Joey Alexander di Tanah Air memang tak setenar Agnez Mo, tetapi kiprah Joey di kancah dunia patut diacungi jempol. Joey Alexander yang kini memutuskan tinggal di New York mendadak menghebohkan Indonesia. Namanya berhasil masuk nominasi Grammy Awards ke-58. Joey tercatat meraih dua nominasi di ajang penghargaan musik bergengsi dunia tersebut. Nama bocah berusia 12 tahun ini termasuk ke dalam nominasi kategori  Best Instrumental Jazz Album untuk albumnya bertajuk My Favorite Things dan Best Improvised Jazz Solo untuk lagu Giant Steps yang terdapat di albumnya tersebut. Padahal Joey tergolong masih cilik dan baru mengeluarkan album perdananya itu pada 12 Mei 2015.
 
  

Dilansir melalui Liputan6.com, album My Favorite Things milik Joey Alexander diproduseri oleh Jason Olaine, sebagai produser terbaik Grammy Awards di mana Joey sekarang masuk sebagai nominee. Joey sungguh tepat meminta Jason Olaine yang sudah asam garam soal urusan musik jazz. Di albumnya itu, bocah berbakat tersebut juga berkolaborasi dengan pemain muda asal New York, yakni Russell Hall (bass), Sammy Miller (drums), dan Alphonso Horne (terompet). Lantas, bagaimana kiprah Joey sehingga bisa memiliki pencapaian luar biasa di usia muda? 
 
  


Melalui situs pribadinya, Joey Alexander Music, dipaparkan bahwa Joey lahir di Bali pada bulan Juni tahun 2013 silam. Ia mulai bermain piano sejak usianya masih 6 tahun. Kedua orangtuanya, Denny dan Fara Sila diketahui penggemar berat musik jazz. Ayahnya kerap memperdengarkan hingga membelikan Joey album-album klasik. Dari situlah Joey, belajar bermain piano milik ayahnya yang ada di rumahnya. Ia mendapat pengaruh musik dari Duke Ellington, Bill Evans, Thelonious Monk, dan John Coltrane. Musisi tersebut punya nama besar di dunia musik jazz dimana Duke Ellinton, Bill Evnas, Thelonious Monk, serta John Coltrane yang memang dikenal sebagai pianis dan musisi Jazz ternama di Amerika. 


Pemilik nama lengkap Joey Alexander Sila tersebut mulai tampil sebagai solo pianis di usia 8 tahun. Kala itu, Joye diminta untuk tampil mengisi acara UNESCO yang dihadiri ikon jazz Herbie Hancock saat datang ke Indonesia. Joey semakin membuktikan dirinya sejak mulai tampil di berbagai festival jazz di Jakarta hingga ke Copenhagen, Denmark. Bahkan di usianya yang masih kecil, Joey berhasil memenangkan internasional improvisasi kontes di Odessa, Ukraine yang diikuti 17 negara di dunia.


Meski baru masuk sebagai nominasi, Joey Alexander setidaknya membuat Indonesia bangga tak terkira. Sampai saat ini mungkin baru Joey orang Indonesia yang mampu menembus ajang bergengsi itu yang bahkan Justin Bieber pun belum mampu tercatat sekalipun sebagai nominasi. Ia tak gembar-gembor go internasional, namun membuktikan kepiawaiannya bermain piano kepada dunia. Catatan yang tak kalah membanggakan, dalam sejarah Grammy Awards Joey Alexander tercatat sebagai nominee termuda di kategori jazz.


Apapun hasilnya nanti, Joey sudah mampu membuktikan bahwa tak perlu sesumbar kepada khalayak agar bisa diakui sebagai musisi go internasional. Malah, ia sudah memberikan makna sesungguhnya dari go internasional itu sendiri. Di malam puncak penghargaan pada Februari 2016 mendatang, kita punya jagoan untuk didukung! Nama Joey akan disebut oleh pembaca nominasi, seperti kita akan mendengar nama Ed Sheeran dan Taylor Swift . Bangga sekali!!


Keep it up the good work, Joey! #SoProud


About

CKH Group is Indonesian MICE company based in Central Jakarta. Driven by our core values and with our own vision to bring more good managements and idea in order to support the MICE industry demand that getting higher not only in Jakarta, but also other cities in Indonesia.